Afirmasi, Perlukah?

Harus diakui, sejauh ini saya belum pernah berkunjung ke apa itu yang disebut rumah yatim. Hmm. Jiwa sosial saya memang belum terasah dengan baik. Dan, atas perantara teman yang juga sekaligus seorang relawan, sesiang tadi saya akhirnya diberikan kesempatan untuk berkunjung kesana: Rumah Yatim Mizan Amanah yang berada di bilangan Jakarta Timur. Bukan itu saja, saya pun lantas diberikan kesempatan untuk menyampaikan satu dua patah kata penyemangat kepada anak-anak di rumah yatim tersebut.


source: https://unsplash.com/


Tibalah saatnya saya melempar beberapa kata penyemangat. Dan yang terjadi adalah, ketika saya katakan, "Berbahagialah." wajah mereka flat. "Hiduplah disaat ini." Kepala mereka malah menunduk. "Jangan biarkan pikiran kita melayang ke masa lalu dan terlempar ke masa depan." Kening mereka justru berkerut, seolah memberikan kesan, "Heh! Maksudnya?" Sebagai kalimat pamungkas, sebetulnya saya ingin teriak, "Wis, bubar kabeh, bubar, bubar!" Tapi saya urungkan, kalimat terakhir yang saya lontarkan adalah, "Saya Abdul Rakan, terima kasih."

Turun dari podium saya baru tersadar bahwa saya masih mentah, apa pasal? iya, saya teringat sebuah ungkapan, "Seseorang yang belum mampu mengungkapkan sesuatu yang rumit nenjadi sederhana, itu pertanda bahwa kita masih bodoh." Ini pesan jelas, bahwa saya masih harus belajar lebih keras lagi. Terutama dalam urusan menjadi penyampai yang baik. Lebih jauh, dan ini yang saya tangkap, bahwa kebenaran itu tetaplah kebenaran, ilmu itu tetaplah ilmu. Semua telah baik dan benar adanya. Sampai suatu kebenaran dan ilmu dicap buruk, mungkin itu karena si penyampai yang kurang piawai dalam menyampaikan.

Jika harus beralasan, sebetulnya saya sangat bisa untuk bilang, "Iyalah, anak kecil mah emang gitu. Mereka mah maunya main aja, bukan dimotivasiin." Iya juga. Apalagi mereka belum banyak pikiran dan masalah layaknya orang dewasa. Lepas dari kondisi mereka yang yatim, dhuafa, papa. Dan ini makin menegaskan kebodohan saya, iyalah, ibaratnya, saya memberi minum kepada mereka yang tidak sedang haus. Memberi pesan kebahagiaan kepada mereka yang sebetulnya sudah bahagia.

Tapi dari mereka saya belajar, tak peduli apapun masalah mereka, misal yatim, piatu, ataupun kekurangan dalam hal materi. Yang ada dalam pikiran mereka justru hanya bermain, asyik, dan bahagia bersama. Walaupun mereka gak teriak, "Saya bahagia, saya bahagia." Berbanding terbalik dengan kita, orang dewasa, yang rajin berafirmasi, "Saya bahagia, saya bahagia." Padahal itu makin menegaskan bahwa kita sedang tidak berbahagia. Dan pada akhirnya semua tetap kembali ke rumus awal; "Ucapan tidak lebih penting jika di dalamnya tidak disertai dengan tindakan." 

Setuju gak, Kak?