Luaran & Dalaman

Banyak orang yang amat memperhatikan penampilan. Tata busana. Hingga soal selektifitas dalam memilih perhiasan dan aksesoris. Kesemua itu dilakukan demi sebuah penilaian dari orang lain. Dalam hal ini menyangkut soal pujian. Komplimen. Betapa waktu-waktu mereka habiskan demi mencari baju terkini. Gaya terbaru. Sesuai artis idola mereka. Belum lagi mereka yang amat gandrung akan olah tubuh. Mulai dari nge-gym, aerobik, yoga, tari salsa, taekwondo, wushu dan apalah namanya. 


source: https://unsplash.com/

Saya tidak berencana mengatakan semua itu buruk. Apalagi dengan saya yang sekarang sedang giat-giatnya berangkat ke gym center demi membentuk otot-otot. Memang tidak ada cita-cita juga untuk menjadi seperti Ade Rai atau Arnold Suasanasegar. Tapi ya setidaknya, agar saya sedikit kelihatan macho saja. Mengingat indeks masa tubuh saya yang berada di level kurus. Masa iya, selama hampir lima tahunan berat badan gak naek-naek. Saya sadari pula bahwa tidak cukup hanya dengan berdo'a kalau ingin berat badan naek dan ingin membentuk otot.

Saya sangat salut kepada mereka yang mampu meluangkan waktunya demi memoles penampilan. Terlepas meluangkan waktu dalam arti sesungguhnya seperti pergi ke mall; membeli baju trendi. Pergi nyalon. Ataupun pergi ke gym tadi. Atau ada pula yang meluangkan waktunya memoles penampilan dalam arti sempit, yakni sekedar mengotak-atik aplikasi C360 ataupun B612 demi agar sedap dipandang mata di poto profil media sosial. Kembali lagi, apakah saya akan mengatakan semua itu buruk dan tidak ada gunanya? tidak. Bahkan saya akan katakan bahwa semua itu bagus. Mantap. Gudjob.

Tapi begini. Kita tahu bahwa jika kita bicara tentang manusia, kita tak hanya bicara soal luaran, tapi juga bicara dalaman. Luaran itu meliputi sesuatu yang tampak; bersifat material, mulai fisik hingga gaya berbusana. Sementara dalaman berbicara soal yang ada di dalam diri manusia. Bagian ini sifatnya imaginer; imateril; tidak tampak. Maka jika sudah menyentuh area ini, kita sedang berbicara soal karakter, sikap, sifat yang ada dalam diri manusia. Lebih jauh mungkin bisa juga menyentuh area jiwa dan ruh.

Kadang saya silau, takjub, melihat mereka yang penampilannya mantap. Misalkan perempuan: baju trendi, make up yang pas hingga membuat wajahnya berseri-seri. Rambut hitam terurai beraroma shampo paling mahal. Parfum yang baunya begitu menggoda. Namun ketika mengenal mereka lebih dekat, kekaguman itu berubah menjadi kekecewaan. Baju bagus itu tidak diimbangi dengan sikap yang humble. Harum rambut itu tidak diimbangi dengan sifat yang supel. Gemulai gerak tubuhnya tidak berbanding lurus dengan kelemahlembutannya dalam bertutur kata. Saya harus menekuk wajah lantaran telah menelan pil kekecewaan.

Pun teman-teman saya yang laki-laki. Dari segi penampilan dan bentuk tubuh, kadang saya minder sendiri. Mereka rata-rata lebih keren dari saya. Otot bisep dan trisep mereka pada jadi semua. Namun faktanya, setelah mengenal mereka lebih dekat, seringkali terjadi obrolan yang tidak nyambung. Terhadap satu topik obrolan, mereka lebih memilih geleng-geleng kepala lantaran tidak menguasainya. Maka yang terjadi saya terus berusaha agar membuat sebuah obrolan menjadi asyik. Tapi mereka cuek saja. Tidak ada usaha untuk membuat sebuah perbincangan menjadi menarik. Mereka lebih tertarik menata tubuh, ketimbang memperbaiki hubungan sosial.

Di lain pihak, ada seseorang yang dari segi penampilan biasa saja. Namun dalam hal keluasan gagasan mereka layaknya sebuah sumur yang tak pernah kering. Orang-orang tidak tahu bahwa orang yang tidak keren secara penampilan itu ternyata dewa dalam soal sikap dan hubungan sosial. Mereka begitu asyik setelah didekati. Begitu supel setelah digali. Cuma memang untuk mendekati mereka yang sederhana secara penampilan itu agak susah di awal, karena orang ragu, apakah ia keren atau tidak. Secara kita sudah dijejali prinsip menilai seseorang dari penampilan sedari kecil. Jika penampilan buruk, maka sikap pasti buruk. Jika penampilan baik, maka sikap pasti baik. 

Sampai di sini mungkin kamu sudah sedikit ada gambaran perihal seseorang yang fokus pada luaran dan dalaman. Bagi mereka yang berfokus pada luaran, bisa jadi mereka mampu menarik orang lain di awal untuk mendekat. Sampai ia didekati nyatanya sikap dan sifatnya tidak lebih indah dari penampilannya. Orang seperti ini saya ibaratkan dengan sebuah makanan basi yang dikemas dengan wadah yang indah, artistik. Menarik untuk dibeli, tapi ketika dibuka: ZONK.

Sebaliknya, untuk mereka yang lebih fokus kepada dalaman, dan kurang memperhatikan luaran. Mereka saya ibaratkan seperti makanan nikmat penuh gizi, namun terbungkus oleh kemasan seadanya. Seringkali membuat orang tidak berminat. Malas mendekat. Sampai orang lain mengambil makanan itu secara tidak sengaja, kemudian membukanya secara tidak sengaja, dan memakannya secara tidak sengaja. Kemudian booms, ternyata rasanya enak sekali mengalahkan makanan lain yang kemasannya lebih sempurna. Tapi masa iya untuk dicicipi dan dinikmati harus menunggu tidak sengaja dulu. Kelamaan. Bisa-bisa makanannya keburu basi.

Baik, kita sampai di paragraf terakhir. Saya akan menyodorkan pertanyaan: Bagaimana agar orang mengambil dengan sengaja sebuah makanan kemasan, kemudian ketika mengambil dan memakannya mereka tidak kecewa pada rasanya? Pertanyaan lanjutannya: Bagaimana agar mereka tertarik dengan penampilannya, kemudian puas juga dengan rasanya? Bagaimana agar orang lain tertarik dengan kita, kemudian bagaimana membuat agar ia tidak kabur dan mual setelah mengenal kita?

Monggo direnungkan ya!

***