Maju Terus Tapi Lupa Mundur

Menggaungkan kemajuan dalam hidup tidak ada salahnya. Lagi pula apalagi yang dicari dalam hidup ini selain soal kemajuan. “Udah maju lo sekarang ya!” Bisa jadi itu adalah pernyataan yang paling kita tunggu-tunggu. Dalam reuni alumni misalnya, jangan harap kita bisa hadir dengan percaya diri kalau belum dapat menjamin akan mendapatkan pernyataan tadi.


source: https://unsplash.com/

Namun kita belum tahu apa itu kemajuan. Bisa. “Lo maju ya sekarang!” Apanya yang maju? Perutnya? Apa hanya karena ia bawa mobil keluaran terbaru lantas disebut maju? Atau hanya karena ia menggandeng pasangan yang good-looking lantas kita sebut juga dia maju? Terus kalau perut ia gak maju, lantas bidang lain dalam hidupnya gak maju? Dengan kita tak melihat dia membawa mobil keluaran terbaru terus ia tak maju?

Nah, sampai di sini aku kira kamu sudah mulai ada bayangan bahwa soal kemajuan itu amat sangat tergantung kepada individu masing-masing. Bisa jadi ada yang standar kemajuannya diukur via materi, ada yang diukur melalui pemahaman, ilmu, skill baru atau gaya berpikir. Aku sendiri menilai bahwa standar kemajuan itu terletak pada gaya berpikir dan tingkat pemahaman. Misalkan, kalau dulu kita menilai rasa lapar itu adalah siksaan, lantas di kemudian hari kita beranggapan bahwa rasa lapar itu merupakan pemantik rasa syukur dalam hal indahnya kenyang, itulah kemajuan. 

Ketika dulu kita main tangan dan meninggikan intonasi pembicaraan dalam menyelesaikan persoalan, lantas di kemudian hari kita lebih kalem dalam bersikap dan lebih piawai dalam mengontrol pembicaraan, itulah kemajuan.


Tentu saja kamu boleh tidak sependapat denganku. Kalau kamu menganggap kemajuan itu seperti ini: dulu 125 cc terus sekarang 250 cc, dulu avanza sekarang alphard, dulu roda dua sekarang tiga roda, dulu rokok sejati, sekarang MLD, ya sah-sah saja.


Di level perusahaan pun memangnya untuk apa diadopsi prinsip kaizen kalau bukan untuk meraih kemajuan (baca: perbaikan) yang ujungnya adalah keuntungan atau peningkatan keuntungan. 

Tapi maksud aku begini, sepenting-pentingnya apa itu kemajuan, mundur sekali-kali tidak ada salahnya. Boleh saja diselipi niat bahwa mundur selangkah untuk maju dua langkah. Itu mundur yang direncanakan. Tapi untuk keperluan tulisan ini, mari kita anggap bahwa kemunduran itu tidak kita rencanakan, alias hadir secara membabi-buta. 

Di sinilah problemnya. Kadang ada beberapa gelintir orang yang tidak siap. Ia hanya ingin maju tanpa pernah ingin mundur. Padahal adanya maju setelah kita mengalami mundur. Ada rasa riang setelah kita mengalami kesedihan. Ada kemarau setelah musim penghujan. Dalam memarkir mobil saja kita memainkan setir, di sana ada proses maju mundur. Sampai akhirnya mobil itu bisa kembali melaju. 

Dalam menjalani hidup, orang kurang menangkap bahwa maju mundur itu adalah bagian dari proses agar hidup terus melaju. Jadi alih-alih kita hanya mendewakan kemajuan, tidak ada salahnya kemunduran pun kita terima keberadaannya, alias jangan disangkal. Maju-mundur itu adalah proses terintegrasi. Tidak bisa kita memilih salah satunya. Jadi, dari pada kita memilih salah satunya, baiknya kita berdiri di tengahnya. Kenapa? Karena dua-duanya sama-sama baik. Sama halnya dengan jenis kelamin, apakah kamu berani mengatakan bahwa pria lebih baik dari wanita, atau sebaliknya, wanita lebih baik dari pria. Tidak bisa kita mengatakan bahwa satu hal lebih baik dari yang lainnya.

Kalau gak percaya coba kamu jawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Kemajuan apa yang pernah kamu alami?

Kemunduran apa yang pernah kamu rasakan?

Apakah kemunduran itu mengantarkanmu kepada hal yang lebih buruk atau membuat kamu belajar dan menjadi lebih baik?

Apakah di balik kemajuan yang kamu alami ada pengaruh buruknya? Membuat kamu lupa daratan misalnya? 

Silakan jawab dalam hati masing-masing saja ya!