Tidak Tahu Apa-Apa Seperti Tahu Apa-Apa

YouTube itu sifatnya tontonan gado-gado, kita bisa menemukan tontonan terbaik hingga 'terburuk', tergantung kepiawaian kita menemukan butiran mutiara dari tumpukan pasir. Wacana penutupan YouTube lantaran memberi pengaruh negatif menurut saya itu salah, sama salahnya dengan penutupan pabrik panci lantaran khawatir digunakan teroris untuk mem-bom suatu tempat. Jangan salah, ada beberapa orang keren yang mencuat ke permukaan hanya bermodal belajar dari YouTube.


source: https://unsplash.com/

Lain hal dengan YouTube, yang saya sebut gado-gado itu, ada satu situs tontonan yang menurut saya sangat mutiara, semua tontonan di situ adalah mutiara, berharga dan keren-keren semua, ketagihan saya dibuatnya, sakau saya kalau gak buka situs itu dalam sehari. Lagi butuh informasi tentang topik 'Kesadaran', ada, dan yang bahas tentu saja orang yang konsern di bidang itu. Lagi butuh informasi tentang 'Atheisme', ada, di situ Richard Dawkins nongol. Butuh informasi tentang situasi perang di timur tengah, jelas ada, yang mengulas adalah bukan saja pengamat, bahkan pelakunya sendiri bisa berdiri dan bercerita di atas panggung.
Bahkan informasi tentang teknologi terbaru, hingga topik metafisik seperti tradisi energi esoterik hingga shio, ada. Yang bahas bukan pengamat ecek-ecek, tapi pelaku yang sudah konsern terhadap bidang itu selama puluhan tahun. Kesemua topik itu diulas secara jenaka dan santai. Materi sensitif seperti RAS dan AGAMA bisa dibawakan dengan kalem. Tidak memakai urat syaraf, karena yang disajikan adalah argumen, fakta dan data. Bukan asumsi belaka.
Dari situs mutiara ini saya belajar, bahwa untuk bisa membicarakan satu topik, baiknya tidak asal bunyi, apalagi hanya sekedar menjadi pengamat, apalagi mengamati menggunakan teropong jarak jauh, alias tidak tidak terjun ke lapangan dan mengamati secara langsung. Karena bisa jadi penglihatan jarak jauh akan sangat berbeda dengan penglihatan jarak dekat, ilusi optik bisa terjadi. Itu baru penglihatan kepada sesuatu yang bersifat material. Apalagi pengamatan terhadap sesuatu yang bersifat imaterial, dan dilakukan secara jarak jauh pula, kesalahan yang terjadi bisa berlipat ganda.
Seperti yang sudah saya katakan di atas bahwa untuk menjadi seseorang yang layak membicarakan suatu topik, diiperlukan waktu yang tidak sebentar untuk tahu seluk beluk hal itu. Dalam situs itu, ada tokoh yang berbicara tentang atheisme, tentu saja ia berbicara sudah sesuai kapasitas, ia sudah mengamati dan mengalami bertahun-tahun pergulatan pemikirannya. Kemudian ia melakukan riset hingga dituangkan dalam bentuk tulisan dan lisan.
Termasuk tokoh-tokoh yang berbicara topik 'Mindfulness', ia diketahui merupakan praktisi-praktisi meditasi yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Kesamaan dari mereka-mereka itu adalah, ketika mereka sudah menggeluti satu topik, pantang bagi mereka untuk mencampuri topik lain. Tidak segan mereka mengatakan "TIDAK TAHU" terhadap topik yang tidak mereka geluti. Mereka lebih baik dicap 'bodoh' daripada membicarakan sesuatu yang mereka tidak tahu banyak.
Belakangan saya sadari, saya adalah bagian dari orang-orang yang sok tahu itu. Tahu sedikit langsung berisik layaknya orang yang banyak tahu. Terlepas dari bidang yang saya geluti saat ini, saya pernah mempelajari topik-topik baru. Ketika saya mempelajari topik baru, seolah saya dapat mainan baru yang harus saya pamerkan, padahal saya belumlah jadi apa-apa di bidang itu.
Terkadang saya malu sendiri. Apalagi terhadap sesuatu yang saya belum pernah meluangkan waktu untuk mempelajari hal itu, seperti dunia politik misalnya, jujur, saya hampir tidak mengerti dunia politik, kecuali hanya sampai tataran bahwa sistem presidensial merupakan bentuk pemerintahan kita saat ini. Selain itu, yang saya tahu bahwa negara kita baik-baik saja. Kalaupun terjadi sedikit kegaduhan, bukannya dari dulu memang selalu gaduh? Dan kabar baiknya, bukan negara kita saja yang dalam kondisi gaduh, kabar baiknya lagi, kegaduhan itu bisa saja kita anggap sebagai riak kecil yang akan meningkatkan level kemesraan dalam berhubungan. 
Satu kesimpulan yang akan saya sampaikan dari tulisan ini adalah bahwa jika segala sesuatu masih berbentuk asumi, apalagi dengan kita yang tak punya ilmu terhadap bidang itu, lebih baik tahan dulu, perbanyak belajar dan mendengar saja. Kalau tidak tahu apa-apa, jangan berlagak seperti tahu apa-apa.[]
Oia, sebelum kelupaan, situs keren yang berisi mutiara itu adalah: www.ted.com